Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2011

Pelabuhan Kuala Stabas Krui

















Dari zaman dahulu Krui sudah mempunyai pelabuhan yang ramai, banyak kapal – kapal besar dari berbagai daerah datang ke pelabuhan Krui. Pelabuhan itu dahulu berada di muara Way Krui di pekon Pedada – Penggawa Lima.

Krui disebut dalam Peta pelayaran nusantara pada tahun 1411 M bahwa di Pulau Sumatera hanya terdapat beberapa kota pelabuhan antara lain : kota pelabuhan Pasee (NAD), Andripura (Indrapura, Riau), Manincabo (Padang, Sumbar), Lu-Shiangshe (Provinsi Bengkulu), Krui, Liamphon (Lamphong atau Lampung), Luzupara (Kemungkinan daerah Tulang Bawang atau Manggala), Lamby (Jambi), dan nama negeri Crïviyäyâ terletak di Musi Selebar.

Jumat, 12 November 2010

PEMERINTAH HARUS MEMPERCEPAT PENYELESAIAN PEMBANGUNAN LAPANGAN TERBANG 'ALANG ALANG LEBAR' KRUI LAMPUNG BARAT

Oleh : Dwi Karyanto / Direktur Eksekutif LSM Lumbung Informasi Tepat Akurat

Pembangunan Lapangan Terbang di Krui Lampung Barat, merupakan satu bukti bahwa pemerintah pusat memiliki pemikiran tentang potensi daerah Krui, peletakan batu pertama dilakukan disaat pemerintahan Lampung Barat dibawah kendali Bupati Erwin Nizar, M.Si dan seluruh masyarakat mendukung program dimaksud, termasuk dalam pembuatan Badan jalan masuk Bandara masyarakat bersedia rumahnya untk diganti rugi .

Pembangunan landasan pacu bandara dimaksud sudah terlaksana, namun panjang landasan harus di perpanjang kembali. Melihat kebelakang prinsif pembangunan bandara merupakan konsep pemerintah pusat untuk antisipasi dan pengendalian bencana 'SUNAMI ' di daerah Lampung Barat, namun menurut pemahaman penulis apa yg penulis lihat bahwa didaerah Krui sudah merupakan salah satu tujuan wisatawan Mancanegara, terbilang sudah cukup banyak touris yg melancong ke Krui dengan tujuan wisata. Data yang didapat setiap bulan Mei hingga Desember jumlah touris yg menuju Krui setelah mereka ke Bali sudah mencapai ratusan bahkan ribuan touris, artinya keberadaan Bandara Alang Alang Lebar (nama ini penulis berikan karena sesuai dgn daerah tempat membangunnya / Lioh Buntor - red bahasa lampung) yg tadinya hanya sebagai antisipasi bencana alangkah baiknya bandara tersebut ditingkatkan menjadi Bandara Domestik.

Penulis berkeyakinan pemerintah pusat tdk berkeberatan dalam peningkatan status bandara. Dan melihat dari sumber dana pembangunan perlu kiranya penulis sampaikan bahwa hanya dana pusat yg dominan tersalurkan (APBN) sementara dana Kabupaten dan Propinsi sangat mengecewakan, seharusnya pemerintah Lampung Barat menganggarkan dana setiap tahun untk pembangunan Lapangan terbang dimaksud, karena sudah menjadi kewajiban pemerintah daerah Lampung Barat untuk menganggarkan dalam APBD .

Pada prinsipnya ketika pembangunan tersebut dilakukan oleh pemerintah pusat ( APBN), ketika itu pula pemerintah Lampung Barat dapat membuat kebijakan bagaimana serta apa yang harus dilakukan untuk mempercepat terselesaikanya pembangunan dimaksud. Penulis melihat dari dekat sangat kurang sekali keterlibatan pemerintah Lampung Barat dalam menganggarkan dana sebagai bukti keterlibatan pemerintah Lampung Barat terhadap percepatan penyelesaian Bandara "ALANG-ALANG LEBAR " dimaksud .

Melihat keberadaan potensi pariwisata di Krui - lampung barat sudah membanggakan dimana keberadaan tourism mancanegara sudah cukup ramai dan silih berganti, ini menunjukan satu grafik betapa tingginya keinginan para wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke pantai atau lokasi lokasi wisata yang ada di krui lampung barat . oleh sebab itu sebagai salah satu faktor pendukung yang harus disediakan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah, bagaimana secepat mungkin Bandara yang berada di Krui dapat segera terselesaikan dengan cepat sehingga dapat beroperasi, selain untuk penanggulangan bencana. Bandara dimaksud lebih memperjelas fungsinya sebagai bandara yang bersifat bisnis yang akan menjadi sarana datang dan perginya para wisatawan baik yang datangnya dari mancanegara maupun dari lokal.

Melihat kenyataan yang ada dan tidak bisa dipungkiri bahwa Krui merupakan daerah yang sudah dikenal sejak dulu ketika krui masih dibawah kabupaten Lampung Utara, sedari dulu para wisatawan mancanegara sudah memulai berkunjung ke Krui untuk melakukan kegiatan slancar atau surfing di laut Krui. guna mendongkrak sebuah inkam daerah tentunya pemerintah lampung barat harus memiliki konsef jelas dan tidak ragu, bahwa apa yang diprogramkan akan menghasilkan pemasukan daerah, oleh sebab itu perencanaan daerah menyangkut pembangunan yang akan dilaksanakan tentu harus matang dan memiliki niat bersahaja .

Artinya dalam menopang kegiatan dan pembangunan di Lampung Barat, agar memiliki dampak kemajuan bagi seluruh masyarakat, baik kesejahteraan maupun lapangan pekerjaan yang akan dirasakan masyarakat, maka pola dasar pembangunan harus menggerakan skala prioritas pembangunan, dan penulis menilai bahwa sektor priwisata di lampung barat tidak bisa ditawar lagi harus ditekan lebih dulu dan lebih teranggarkan, guna apa yang menjadi harapan masyarakat Lampung Barat dan daerah lain yang memiliki kepentingan terhadap keindahan alam Krui (pariwisata bahari) - tolak ukur sebagai pembanding dapat dicontohkan ketika lebaran penulis melihat seluruh sudut pantai di Krui semua dipenuhi pengunjung, namun pemerintah Lampung Barat tidak terpikir untuk membangun tempat membuang air (kamar mandi atau WC) setidaknya yang lebih simple lokasi Lapangan Labuhan Jukung sebagai pilot projek pariwisata di Krui saja hingga saat ini belum terlihat adanya sentuhan pemerintah secara serius .

Penulis berpikir bahwa antara Bandara dan lokasi pariwisata yang ada tentulah memiliki satu kaitan yang sangat erat dan harus di upayakan kebersamaan dalam pembangunanya . karena kedua proyeksi pembangunan ini selalu saling mendukung dan relevansi konsef selalu berdekatan, dan dilihat dari sektor lain misalnya perkebunan dan perikanan juga tidak kalah pentingnya dalam arti jalur bisnis bagi penjualan hasil produksi perkebunan maupun produksi perikanan nantinya di Krui .

Pemerintah Lampung Barat harus mengakui bahwa Krui merupakan daerah potensial dari segala potensi daerah, dan tidak bisa dipungkiri bahwa Krui TELAH MENYUMBANGKAN PAD yang besar sejak masih bernaung dibawah kabupaten Lampung Barat, dan sampai saat ini PAD Lampung Barat Krui Masih mendominisir tingkat prosentasi terutama Sektor Kehutanan, Kelautan dan perikanan, Sektor pertanian, sektor perkebunan, dan sektor pariwisata, Krui memegang peringkat tertinggi PAD dari beberapa sektor dimaksud . Pemerintah Lampung Barat segera harus mengakui hal ini, bahkan sektor pertambanganpun sangat menggairahkan dalam kurun waktu beberapa waktu, sektor ini akan membuat grafik peningkatan PAD Lampung Barat yang menggairahkan. Artinya pemerintah Lampung Barat harus penuh perhatian atas perencanaan program pembangunan didaerah Krui, marilah kita memulai membangun dengan perencanaan yang sifatnya berpegang teguh pada adanya potensi bukan sekedar karena adanya bnesar kecilnya persebaran penduduk, karena apabila dimulai dengan mengalahkan kepentingan politik semata, maka segera dapat diwujudkan satu kesatuan yang tidak terpecahkan atas Lampung Barat. Lampung Barat adalah satu kesatuan yang terikat saling membutuhkan antara daerah satu dengan daerah lainya (satu kecamatan dengan kecamatan lainya saling ketergantungan).

Rakyat berpesan untuk sang pemimpin untuk menghidupkan semua suasana didaerah Lampung Barat yang memiliki masyarakat yang majemuk terdiri dari berbagai suku dan dapat hidup rukun dan damai. Semoga kedepan Lampung Barat menjadi daerah yang kuat dan mampu mengikuti selera rakyat yang sesungguhnya, tanpa sebuah pembohongan pembelokan dan kemunafikan.

DPRD Lampung Barat yang memiliki kinerja yang baik dan profesional serta mengerti akan keadaan daerah akan mampu mencerna bagaimana Lampung Barat kedepan. Sehingga tidak terkesan DPRD Lampung Barat hanya sebuah lembaga pelengkap penderita saja atau hanya sebuah lembaga yang bisa dimanfaatkan oleh kepala daerah saja dengan permainan permainan lama yang menyesatkan dan merugikan rakyat.

Apa yang menjadi keinginan dan cita cita kita bersama, bisa segera tercapai dengan maksimal dan baik, tanpa kesan bahwa Lampung Barat ini hanya sebuah kerajaan yang dipimpin sang NAGABONAR .

Kamis, 11 November 2010

Penebangan Pohon Damar Semakin Membabi Buta

Oleh : Dwi Karyanto / Dir.Eksekutif LSM Lumbung Informasi Tepat Akurat (LITA)

Potensi alam Lampung Barat berupa damar matakucing, merupakat aset daerah dan juga aset nasional, oleh sebab itu populasi pohon yg menghasilkan getah damar ini harus dijaga serta diberikan perlindungan atas aturan hukum yg jelas oleh pemerintah lampung barat.

Satu hal dilematis yg akan terjadi dilampung barat saat ini, kehancuran hutan damar disebabkan oleh lemahnya sistim yg diterapkan oleh pemerintah lampung barat. Perkembangan penyusunan serta menciftakan perda sangat lemah, ketika terjadi penebangan pohon damar secara besar besaran, begitu mudah masyarakat mengelak bahwa mereka mengatakan hak milik, sementara secara mendasar apapun aturan ada pada pemerintah, semua bisa diperbuat oleh pemerintah Lampung Barat.

Bagaimanapun ketika pemerintah telah mencanangkan anti penebangan pohon damar, maka tidak bisa ditawar lagi. Dan permasalahanya bagaimana aturan tersebut diwujudkan atas dasar kebutuhan yg prinsif oleh pemerintah dan diterapkan dengan tegas. Tentu akan berhasil. Dan pemerintah harus menutup sawmill yg ada di Lampung Barat . Stop penebangan pohon damar dan tutup sawmill, maka akan terpeliharalah kekayaan daerah berupa hutan dan damar mata kucing.

Selasa, 02 November 2010

Kabupaten Lampung Barat

Kabupaten Lampug Barat adalah salah satu pemekaran dari Lampung utara, yag ber Ibukota di Liwa. Pemilihan Liwa sebagai ibu kota Kabupaten Lampung Barat memang tepat. Beberapa alasan memperkuat pernyataan ini adalah : 
  1. tempatnya strategis karena berada di tengah-tengah wilayah Lampung Barat, sehingga untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh daerah Lampung Barat oleh pemerintah kabupaten akan relatif efektif
     
  2. Liwa merupakan persimpangan lalu lintas jalan darat dari berbagai arah yaitu Sumatra Selatan, Bengkulu, dan Lampung sendiri Tentang asal-usul nama Liwa, menurut cerita orang, berasal dari kata-kata "meli iwa" (bahasa Lampung), artinya membeli ikan. Konon dahulunya Liwa merupakan daerah yang subur, persawahan yang luas, sehingga hasil pertaniannya melimpah. Liwa juga nama salah satu marga dari 84 marga di Lampung.

Sejarah Lampung Barat

Skala Beghak, Asal Muasal.

Sekala Beghak (biasa ditulis Skala Brak), adalah kawasan yang sampai kini dapat disaksikan warisan peradabannya. Kawasan ini boleh dibilang kawasan yang “sudah hidup” sejak masa pra-sejarah. Batu-batu menhir mensitus dan tersebar di sejumlah titik di Lampung Barat. Bukti, ada tanda kehidupan menyejarah.

Sebuah batu prasasti di Bunuk Tenuar, Liwa berangka tahun 966 Saka atau tahun 1074 Masehi, menunjukkan ada jejak Hindu di kawasan tersebut. Bahkan di tengah rimba ditemukan bekas parit dan jalan Zaman Hindu. Ada lagi disebut-sebut bahwa Kenali yang dikenal sekarang sebagai ibukota Kecamatan Belunguh, adalah bekas kerajaan bernama “Kendali” dengan “Raja Sapalananlinda” sebagaimana disebut dalam “Kitab Tiongkok Kuno”. Kata “Sapalananlinda” oleh L.C. Westenenk ditafsir sebagai berasal dari kata “Sribaginda” dalam pengucapan dan telinga orang Cina. Jadi bukan nama orang tapi gelar penyebutan. Buku itu konon juga menyebut, bahwa Kendali itu berada di antara Jawa dan Siam-Kamboja. Kitab itu, menyebut angka tahun antara 454 – 464 Masehi. Kitab ini telah disalin ke dalam bahasa Inggris oleh Groenevelt (Wikipedia Indonesi, 2007).

Meski belum seluruhnya terbaca, namun dapat disimpulkan: di situ tercatat suatu peradaban panjang. Suatu kawasan tua yang mencatatkan diri dalam sejarah umat manusia. Di wilayah ini pula pernah berdiri sebuah kerajaan. Ada yang menyebut kerajaan tersebut adalah Kerajaan Tulang Bawang, namun bukti-bukti keberadaannya sulit ditemukan. Sedang keyakinan yang terus hidup dan dipertahankan masyarakat khususnya di Lampung Barat serta keturunan mereka yang tersebar hingga seluruh wilayah Sumatera Selatan, menyebutkan Kerajaan Skala Beghak. Pendapat ini juga disokong oleh keberadaan para raja yang bergelar Sai Batin, hingga bukti-bukti bangunan dan alat-alat kebesaran kerajaan, upacara dan seni tradisi yang masih terjaga. Masih banyak bukti lain, namun perlu pembahasan terpisah.

Kalau membaca peta Propinsi Lampung sekarang, kisaran lokasi pusat Sekala Beghak berada di hampir seluruh wilayah Kabupaten Lampung Barat, sebagian Kecamatan Banding Agung Kabupaten Ogan Komering Ulu, Propinsi Sumatera Selatan. “Pusat kerajaan” meliputi daerah pegunungan di lereng Gunung Pesagi di daerah Liwa, seputar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau dan Kecamatan Balik Bukit.

Sebagai kesatuan politik Kerajaan Sekala Beghak telah berakhir. Tetapi, sebagai kesatuan budaya (cultural based) keber¬adaannya turun temurun tewarisi melalui sejarah panjang yang menggurat kuat dan terbaca makna-maknanya hingga saat ini. Sekala Beghak dalam gelaran peta Tanah Lampung, pastilah tertoreh warna tegas, termasuk sebaran pengaruh kebudayaannya sampai saat ini.

Tata kehidupan berbasis adat tradisi Sekala Beghak juga masih dipertahankan dan dikembangkan. Terutama, Sekala Beghak setelah dalam pengaruh “Empat Umpu” penyebar agama Islam dan lahirnya masyarakat adat Sai Batin. Adat dan tradisi terus diacu dalam tata hidup keseharian masyarakat pendukungnya dan dapat menjadi salah satu sumber inspirasi dan motivasi pengembangan nilai budaya bangsa.

Hasil pembacaan atas segala yang ada dalam masyarakat berkebudayaan Sai Batin di Lampung, memperlihatkan kedudukan dan posisi penting Sekala Beghak sebagai satuan peradaban yang lengkap dan terwariskan. Keberadaan Sekala Beghak tampak sangat benderang dalam peta kebudayaan Sai Batin, sebagai satu tiang sangga utama pembangun masyarakat Lampung. Bahkan, telah diakui, Sekala Beghak sebagai cikal bakal atau asal muasal tertua leluhur “orang Lampung”. Bahkan keberadaan Skala Beghak, berada dalam kisaran waktu strategis perubahan peradaban besar di Nusantara, dari Hindu ke Islam.

Bukti kemashuran Sekala Beghak dirunut melalui penuturan lisan turun-temurun dalam wewarah, tambo, dan dalung yang mempertegas keberadaan Lampung dalam peta peradaban dan kebudayaan Nusantara. Kata Lampung itu sendiri banyak yang menyebut berasal dari kata “anjak lampung” atau “yang berasal dari ketinggian”. Pernyataan itu menunjukkan bahwa “orang Lampung” berasal dari lereng gunung (tempat yang tinggi), yang dalam hal ini Gunung Pesagi. Pendapat yang sama juga ditemukan dalam kronik perjalanan I Tsing. Disebutkan kisah pengelana dari Tiongkok, I Tsing (635-713). Seorang bhiksu yang berkelana dari Tiongkok (masa Dinasti Tang) ke India, dan kembali lagi ke Tiongkok. Ia tinggal di Kuil Xi Ming dan beberapa waktu pernah tingal di Chang’an. Ia menerjemahkan kitab agama Budha berbahasa Sanskerta ke dalam bahasa Cina. Dalam perjalanannya itu, kronik menulis I Tsing singgah di Sriwijaya pada tahun 671. Ia mengunjungi pusat-pusat studi agama Budha di Sumatera, di antaranya selama dua bulan di Jambi dan setelah itu konon tinggal selama 10 tahun di Sriwijaya (685-695). Dalam perjalanannya itu, I Tsing dikabarkan menyebut nama suatu tempat dengan “To Lang Pohwang”. Kata “To Lang Pohwang” merupakan bahasa Hokian, bahasa yang digunakan I Tsing.
Ada yang menerjemahkan “To Lang Pohwang” sebagai Tulang Bawang. Salah satunya adalah Prof. Hilman Hadikusuma, ahli hukum adat dan budayawan Lampung tersebut memberi uraian perihal sejarah Lampung, khususnya dalam menafsir To Lang Pohwang sebagai Kerajaan Tulang Bawang. Disebut-sebut berada di sekitar Menggala, ibukota Kabupaten Tulang Bawang saat ini. Meski bekas-bekas atau artefaknya belum terlacak, garis silsilah raja dan istana, komunitas masyarakat pewaris tradisi, dan banyak hal lagi yang masih tidak bisa ditemukan. Tidak hanya dari sudut pandang semantis untuk memaknai kata “To Lang Pohwang”, namun perlu pula didampingi kajian sosiologis dan arkeologis yang lebih mendalam.
Kata “To Lang Pohwang” berasal dari bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’. Orang atas banyak diartikan, orang-orang yang berada atau tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To Lang Pohwang” memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak lampung”, sama-sama berarti orang yang berada atau tinggal di atas. Sedang atas yang dimaksud adalah Gunung Pesagi.

Merujuk pada dua pendapat itu, maka penunjukan “orang atas” mengarah pada Suku Tumi yang tinggal di lereng Gunung Pesagi di Lampung Barat. Mereka inilah cikal-bakal Kerajaan Sekala Beghak. Kerajaan ini di kemudian hari ditundukkan oleh para penakluk, mujahid dan pendakwah Islam yang masuk ke Sekala Beghak dari Samudera Pasai melalui Pagaruyung Sumatera Barat. Di bawah Ratu Mumelar Paksi bersama putranya Ratu Ngegalang Paksi, disertai juga para Umpu, empat cucu Ratu Mumelar Paski. Mereka masuk untuk kemudian menguasai kawasan tersebut setelah menundukkan Suku Tumi. Para Umpu, keempat putra Ratu Ngegalang Paksi itulah yang kemudian melahirkan Paksi Pak Sekala Beghak dengan segala kebudayaannya, berkembang dan beranak pinak untuk kemudian menyebar ke seluruh Lampung dan sejumlah daerah. Karena kerajaan Sekala Beghak lama (animisme/dinamisme) telah dikalahkan dan dikuasai sepenuhnya oleh keempat Umpu keturunan Ratu Ngegalang Paksi, maka kemudian adat-istiadat dan kebudayaan yang berkembang dan dipertahankan hingga kini merupakan peninggalan Kerajaan Sekala Beghak Islam.
Dalam tambo-tambo dan wewarah, “Empat Umpu” (Umpu Bejalan Diway; Umpu Belunguh; Umpu Nyekhupa, dan Umpu Pernong) banyak disebut memiliki peran sentral dalam membangun masyarakat adat Sai Batin, Paksi Pak Sekala Beghak. Pada periode selanjutnya, penyebaran orang-orang Sekala Beghak ini dapat dirunut dari kisah-kisah tentang kepergian mereka melalui sungai-sungai. Bahkan, sebagian orang-orang Komering pun mengaku sebagai keturunan Sekala Beghak. Mereka diperkirakan keturunan Pasukan Margasana yang dikirim Kerajaan Sekala Beghak ke Komering untuk menghadang serangan sisa-sia prajurit Kerajaan Sriwijaya yang telah runtuh sebelumnya. Seperti halnya keberadaan Suku Ranau sekarang, diakui juga berasal dari Sekala Beghak, Lampung Barat. Di sekitar Danau Ranau di Banding Agung, Ogan Komering Ulu itu semula dihuni Suku Abung yang setelah kedatangan orang-orang Sekala Beghak pada abad ke-15 mereka pindah ke Lampung Tengah.

Seperti dikutip Harian KOMPAS, (11 Desember 2006:36), pada abad 15 datang empat kelompok masyarakat yang menduduki sekitar Danau Ranau. Di sebelah barat danau dihuni orang-orang yang datang dari Pagaruyung Sumatera Barat dipimpin Dipati Alam Padang. Sementara itu, tiga kelompok lainnya berasal dari Sekala Beghak. Tiga kelompok orang-orang Sekala Beghak itu dipimpin Raja Singa Jukhu (dari Kepaksian Bejalan Diway), menempati sisi timur danau. Di sisi timur danau pula, kelompok yang dipimpin Pangeran Liang Batu dan Pahlawan Sawangan (berasal dari Kepaksian Nyekhupa) menempat. Sementara kelompok yang dipimpin Umpu Sijadi Helau menempati sisi utara danau. Empu Sijadi Helau yang disebut-sebut itu bukan Umpu Jadi putra Ratu Buay Pernong, yang menjadi pewaris tahta Buay Pernong. Kemungkinan besar Umpu Sijadi di daerah Ranau tersebut adalah keturunan Kepaksian Pernong yang meninggalkan Kepaksian dan mendirikan negeri baru di Tenumbang kemudian menjadi Marga Tenumbang.
Ketiga kelompok dari Sekala Beghak ini kemudian berbaur dan menempati kawasan Banding Agung, Pematang Ribu, dan Warkuk. Sampai sekarang banyak orang Banding Agung mengaku keturunan Paksi Pak Sekala Beghak. Di samping itu, ada kisah-kisah perpindahan orang Sekala Beghak, sebagaimana ditulis dalam Wikipedia (7/3/07: 04.02), yang dipimpin Pangeran Tongkok Podang, Puyan Rakian, Puyang Nayan Sakti, Puyang Naga Berisang, Ratu Pikulun Siba, Adipati Raja Ngandum dan sebagainya. Bahkan, daerah Cikoneng di Banten ada daerah yang diberikan kepada Umpu Junjungan Sakti dari Kepaksian Belunguh atas jasa-jasanya, dan banyak orang Sekala Beghak yang migrasi ke sana atau sebaliknya.
Kisah-kisah ini memperkuat suatu kenyataan bahwa Sekala Beghak tidak hanya sebagai sumber muasal secara geografis, melainkan juga sumber kultur masyarakat. Sekala Beghak adalah hulu suatu kebudayaan masyarakat. Dari Sekala Beghak ini juga lahir huruf Lampung yaitu Kaganga. Bagi sebuah kebudayaan, memiliki bahasa dan aksara sendiri merupakan bukti kebesaran masa lalu kebudayaan tersebut. Di Indonesia hanya sedikit kebudayaan yang memiliki aksara sendiri, yaitu Batak, Lampung (Sumatera Selatan), Jawa, Sunda, Bali, dan Bugis. Dan kebudayaan yang memiliki aksara sendiri dapat dikategorikan sebagai kebudayaan unggul. Karena bahasa merupakan alat komunikasi sekaligus simbol kemajuan peradaban.

Semua aksara Nusantara tersebut berasal dari bahasa Palava, yang berinduk pada bahasa Brahmi di India. Bahasa Palava digunakan di India dan Asia Tenggara. Di Nusantara bahasa ini mengalami penyebaran dan pengembangan, bermula dari bahasa Kawi, sebagai induk bahasa Nusantara. Dari bahasa Kawi menjadi bahasa : Jawa (Hanacaraka), Bali, Surat Batak, Lampung/Sumatera Selatan (Kaganga), dan Bugis.
Dari Kerajaan Sekala Beghak yang telah memiliki unsur-unsur “kebudayaan lengkap” ini pulalah “ideologi” Sai Batin dilahirkan dan disebarluaskan. Sampai saat ini, masih banyak yang bisa dibaca dari jejak-jejak yang tertinggal. Baik dari jejak fisik maupun jejak yang tidak kasat mata. Dari legenda, seni budaya, adat tata cara, bahasa lisan tulisan, artefak benda peninggalan, hingga falsafah hidup masih ada runut rujukannya. Dari Sekala Beghak itu di kemudian hari pengaruh budaya dan peradabannya berkembang dan berpengaruh luas ke seluruh Lampung bahkan sampai ke Komering di Sumatera Selatan sekarang. Tidak terhitung kemudian “pendukung budaya”-nya yang tersebar di seluruh Indonesia pada masa kini.

sumber : 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger